10 Tahapan Kisah Nabi Yusuf As dan Pelajaran yang Dapat Diambil dari Kisahnya

Berikut ini merupakan 10 tahapan kisah nabi Yusuf AS dari awal hingga akhir.

1. Saudara-saudara Yusuf melakukan pertemuan rahasia

Mereka mengadakan pertemuan rahasia, mereka merundingkan nasib yang mereka alami dan mengatur strategi dan aksi yang harus mereka lakukan untuk menyadarkan ayahnya, dan menuntut perlakuan yang adil.

Salah seorang diantara mereka berkata:” Tidakkah kamu merasakan bahwa perlakuan ayah terhadap kita sebagai anak-anaknya tidak adil dan berat sebelah? Ia memanjakan Yusuf dan mencintai serta menyayangi lebih daripada terhadap kita, seolah-olah Yusuf dan Benyamin sajalah anakanak kandungnya dan kita anak-anak tirinya, padahal kita adalah lebih tua daripada mereka berdua serta kitalah yang selalu mendampingi ayah, mengurus segala keperluan.

Sebagaimana kalian ketahui bahwa penyebab utama kondisi yang menjengkelkan hati ini ialah adanya Yusuf di tengah-tengah kita. Dia adalah penghalang bagi kita untuk mendapat kasih sayang ayah kita dan dia merupakan dinding tebal yang memisahkan kita dari ayah kita yang sangat kita cintai. Maka jalan satu-satunya untuk mengakhiri kondisi kita ini ialah dengan melenyapkan Yusuf dari tengah-tengah kita dan menyingkirkan jauh-jauh dari pergaulan ayah dan keluarga kita. Kita harus membunuh dengan tangan kita sendiri atau mengasingkannya di suatu tempat di mana terdapat binatang-binatang buas yang akan memangsanya. Dan kita tidak perlu meragukan lagi bahwa bila Yusuf sudah lenyap dari mata dan pergaulan ayah, ia akan kembali mencintai dan menyayangi kita sebagai anak-anaknya yang patut mendapat perlakuan adil dan saksama dari ayah dan suasana rumah tangga akan kembali menjadi rukun, tenang dan damai.

2. Nabi Yusuf bermimpi

Pada malam di mana para saudaranya mengadakan pertemuan rahasia untuk merencanakan perbuatan jahat terhadap adiknya yang ketika itu Nabi Yusuf sedang tidur nyenyak, bermimpi yang baik dan ia tidak mengetahui apa yang oleh takdir direncanakan atas dirinya dan tidak terbayang olehnya bahwa penderitaan yang akan dialaminya adalah akibat dari perbuatan saudara-saudara kandungnya sendiri, yang didiorong oleh iri hati dan dengki.

Nabi Yusuf melihat dalam mimpinya, seakan-akan sebelas bintang, matahari dan bulan yang berada di langit turun dan sujud di depannya. Terburu-buru setelah bangun dari tidurnya, ia datang menghampiri ayahnya, menceritakan kepadanya apa yang ia lihat dan alami dalam mimpi. Tanda gembira segera tampak pada wajah Ya’qub yang berseriseri ketika mendengar cerita mimpi Yusuf, puteranya. Ia berkata kepada puteranya:
” Wahai anakku! Mimpimu adalah mimpi yang berisi dan bukan mimpi yang kosong. Mimpimu memberikan tanda yang membenarkan firasatku pada dirimu, bahwa engkau dikurniakan oleh Allah kemuliaan, ilmu dan kenikmatan hidup yang mewah. Mimpimu adalah suatu berita gembira dari Allah kepadamu bahwa hari depanmu adalah hari depan yang cerah penuh kebahagiaan, kebesaran dan kenikmatan yang berlimpahlimpah. Akan tetapi engkau harus berhati-hati, wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu itu kepada saudaramu yang aku tahu mereka tidak menaruh cinta kasih kepadamu, bahkan mereka iri kepadamu karena kedudukkan yang aku berikan kepadamu dan kepada adikmu Benyamin.

3. Yusuf dimasukkan ke dalam sumur

Pada esok harinya setelah semalam suntuk saudara kandung Yusuf bertemu merancang penyingkiran adiknya datanglah mereka menghadap Nabi Ya’qub ayahnya meminta izin untuk membawa Yusuf bermain bersama mereka di luar kota. Berkata juru juru mereka kepada si ayah:
” Wahai ayah yang kami cintai! Kami bermaksud rekreasi ke luar kota bersama-sama dan ingin sekali membawa adik kami Yusuf. Kami akan membawa bekal makanan dan minuman yang cukup untuk santapan kami selama sehari berada di luar".

Berkata Ya’qub kepada putera-puteranya:” Sesungguhnya akan sangat memberatkan ¿kiranku bila Yusuf berada jauh dari mataku, apalagi akan turut serta bersamamu keluar kota, di lapangan terbuka, yang menurut pendengaranku banyak binatang buas seperti srigala yang banyak berkeliaran di sana . Aku khawatir bahwa kamu akan lengah menjaganya, karena asyik bermain-main sendiri sehingga menjadikannya mangsa bagi binatang-binatang buas itu. Alangkah sedihnya aku bila hal itu terjadi. Kamu mengetahui betapa sayangnya aku kepada Yusuf yang telah ditinggalkan oleh ibunya.”

Putera-puteranya menjawab:” Wahai ayah kami! Masak masuk akal, jika Yusuf akan diterkam oleh serigala atau lain binatang buas di depan mata kami? Padahal tidak ada di antara kami yang bertubuh lemah. Kami sanggup menolak segala gangguan atau serangan dari mana pun datangnya, apakah itu binatang buas atau makhluk lain. Kami cukup kuat serta berani dan kami menjaga Yusuf sebaik-baiknya, tidak akan melepaskannya dari pandangan kami walau sekejap pun.

Akhirnya Nabi Ya’qub tidak mempunyai alasan untuk menolak permintaan anak-anaknya membawa Yusuf berekreasi melepaskan Yusuf di tangan saudara-saudaranya yang diketahuinya mereka tidak menyukainya. Esok harinya berangkatlah rombongan putera-putera Ya’qub kecuali Benyamin, menuju ke tempat rekreasi atau yang sebenarnya menuju tempat yang mereka rencanakan, Yusuf akan ditinggalkan. Setiba di sekitar tempat yang menjadi tujuan, Yusuf segera ditanggalkan pakaiannya dan dicampakkannya di dalam sumur tanpa menghiraukan jeritan tangisnya yang sedikit pun tidak mengubah hati saudara-saudaranya yang sudah kehilangan rasa cinta kepada adik yang tidak berdosa itu.

10 Tahapan Kisah Nabi Yusuf As

Pada petang hari pulanglah mereka kembali ke rumah tanpa Yusuf yang ditinggalkan seorang diri di dasar sumur yang gelap itu, dengan membawa serta pakaiannya setelah disirami darah seekor kelinci yang sengaja dipotong untuk keperluan itu, mereka menghadap Nabi Ya’qub sambil menangis mencucurkan air mata dan bersandiwara seakan-akan sedih. Mereka berkata kepada ayahnya:” Wahai ayah! Alangkah sial dan naasnya hari ini bagi kami, bahwa kekhawatiran yang ayah kemukakan kepada kami tentang Yusuf kepada kami telah terjadi dan menjadi kenyataan bahwa firasat ayah yang tajam itu tidak meleset. Yusuf telah diterkam oleh seekor srigala dikala kami bermain.

Nabi Ya’qub yang sudah memperolehi firasat tentang apa yang akan terjadi pada diri Yusuf putera kesayangannya dan mengetahui bagaimana sikap saudara-saudaranya terhadap Yusuf, tidak dapat berbuat apa-apa selain berpasrah kepada takdir Ilahi dan seraya menekan rasa sedih, cemas dan marah yang sedang bergelora di dalam dadanya, berkatalah beliau kepada putera-puteranya:” Kamu telah memperturutkan hawa nafsumu dan mengikuti apa yang dirancangkan oleh syaitan kepadamu. Kamu telah melakukan suatu perbuatan yang akan kamu rasa sendiri akibatnya kelak jika sudah terbuka tabirnya. (baca QS. Yusuf [12]: 11-18)

4. Yusuf dijual sebagai hamba sahaya

Yusuf sedang berada di dalam sumur seorang diri, diliputi oleh kegelapan dan kesunyian yang mencekam. Ia melihat ke atas dan ke bawah ke kanan dan ke kiri memikirkan bagaimana ia dapat menyelamatkan dirinya dari sumur itu, namun ia tidak melihat sesuatu yang dapat menolongnya. Ia hanya dapat melihat bayangan tubuhnya dalam air yang dangkal di bawah kakinya.

Tiga hari berselang, sejak Yusuf dimasukkan ke dalam sumur, belum nampak tanda-tanda yang memberi harapan baginya dapat keluar dari sumur, sedang bahaya kelaparan sudah mulai membayangi dan sudah nyaris berputus asa ketika sekonyong-konyong terdengar olehnya suara sayup-sayup, suara aneh yang belum pernah didengarnya sejak ia dilemparkan ke dalam sumur itu. Makin lama makin jelaslah suara-suara itu yang akhirnya terdengar seakan anjing menggonggong suara orang-orang bercakap-cakap dan tertawa terbahak-bahak dan suara jejak kaki manusia dan binatang sekitar sumur itu.

Ternyata apa yang terdengar oleh Yusuf, ialah suara-suara yang timbul oleh sebuah kafilah yang sedang berhenti di sekitar sumur, di mana ia terkurung untuk beristirahat sambil mencari air untuk diminum bagi mereka dan binatang-binatang mereka. Alangkah gembiranya Yusuf ketika ia sedang memasang telinganya dan mendengar suara ketua kafilah memerintahkan orangnya melepaskan timba mengambil air dari sumur itu. Kemudian dilihat oleh Yusuf sebuah timba turun ke bawah dan begitu terjangkau oleh tangannya dipeganglah kuat-kuat timba itu yang kemudian ditarik ke atas oleh sang musafir seraya berteriak mengeluh karena beratnya timba yang ditarik itu.

Para musafir yang berada di ka¿lah itu terperanjat dan takjub ketika melihat bahwa yang memberatkan timba itu bukannya air, tetapi manusia hidup berparas tampan, bertubuh tegak dan berkulit putih bersih. Mereka berunding apa yang akan diperbuat dengan hamba Allah yang telah
ditemukan di dalam dasar sumur itu, dilepaskannya di tempat yang sunyi itu atau dikembalikan kepada keluarganya. Akhirnya bersepakatlah mereka untuk dibawa ke Mesir dan dijual di sana sebagai hamba sahaya dengan harga, yang menurut tafsiran mereka akan mencapai harga yang tinggi, karena tubuhnya yang baik dan parasnya yang tampan.

Setibanya kafilah itu di Mesir, dibawalah Yusuf di sebuah pasar khusus, di mana manusia diperdagangkan dan diperjual-belikan sebagai barang dagangan atau sebagai binatang-binatang ternak. Nabi Yusuf oleh pejabat Mesir bernama Fathifar sebagai penawar pertama, yang merasa berbahagia memperoleh sorang hamba yang berparas bagus dan bertubuh kuat.

Kata Fathifar kepada isterinya yang bernama Zulaikha ketika mengenalkan Yusuf kepadanya:” Inilah hamba yang aku baru beli dari pasar. Berilah ia perlakuan yang baik kalau-kalau kelak kami akan memperoleh manfaat darinya dan memungutnya sebagai anak kandung kita. Aku dapat firasat dari paras mukanya dan gerak-gerinya bahwa ia bukanlah dari golongan yang harus diperjual-belikan, bahkan mungkin sekali bahwa ia adalah dari keturunan keluarga yang berkedudukan tinggi. (Baca QS. Yusuf [12] : 19-21)

5. Yusuf dan Godaan Zulaikha

Yusuf hidup tenang dan tenteram di rumah Futhifar, sejak ia menginjakkan kakinya di rumah itu. Ia mendapat kepercayaan penuh dari kedua majikannya, suami-istri, mengurus rumah-tangga mereka dan melaksanakan perintah dan segala keperluan mereka dengan sepenuh hati, ikhlas dan jujur, tiada menuntut upah dan balasan atas segala tenaga dan jerih payah yang dicurahkan untuk kepentingan keluarga. Ia menganggap dirinya di rumah itu bukan sebagai hamba sahaya, tetapi sebagai seorang dari pada anggota keluarga. Demikian pula anggapan majikannya dan suami-isteri terhadap dirinya.

Ketenangan hidup yang dirasakan Yusuf selama ia tinggal di rumah Futhifar, telah mempengaruhi kesehatan dan pertumbuhan fisiknya. Ia yang telah dikaruniai oleh Allah kesempurnaan jasmani dengan kehidupan yang senang dan empuk di rumah Futhifar, makin terlihat tambah segar wajahnya
dan tambah elok parasnya sehingga ia merupakan seorang pemuda remaja yang gagah perkasa yang mempesona hati setiap wanita yang melihatnya, tidak terkecuali Zulaikha, majikannya sendiri, bahkan bukan tidak mungkin bahwa ia akan menjadi rebutan lelaki, andai kata ia hidup di kota Sadum di tengah-tangah kaum Nabi Luth ketika itu.

Kehidupan sehari-hari di bawah satu atap rumah antara Yusuf remaja yang gagah perkasa dan Zulaikha, seorang wanita muda cantik dan ayu, tidak akan terhindar dari resiko terjadinya perbuatan maksiat, bila tidak ada kekuatan iman dan takwa yang menyekat hawa nafsu.

Pada hari-hari pertama Yusuf berada di tengah-tengah keluarga, Zulaikha tidak menganggapnya dan memperlakukannya lebih dari sebagai pembantu rumah yang cakap, tangkas, giat dan jujur, berakhlak dan berbudi pekerti yang baik. Ia hanya mengagumi sifat-sifat luhurnya itu serta kecekapan dan ketangkasan kerjanya dalam menyelesaikan urusan dan tugas yang dipasrahkan kepadanya. Akan tetapi memang rasa cinta itu selalu didahului oleh rasa simpati.

Simpati dan kekaguman Zulaikha terhadap cara kerja Yusuf, lamakelamaan berubah menjadi simpati dan kekaguman terhadap bentuk dan paras wajahnya. Gerak-gerik dan tingkah laku Yusuf diperhatikan dari jauh dan diliriknya dengan penuh hati-hati. Bunga api cinta yang masih kecil di dalam hati Zulaikha terhadap Yusuf makin hari makin membesar dan membara tiap kali ia melihat Yusuf berada dekatnya atau mendengar suaranya dan suara langkah kakinya. Walaupun ia berusaha memandamkan api yang membara di dadanya itu dan hedak menyekat nafsu birahi yang sedang bergelora dalam hatinya, untuk menjaga kehormatan sebagai majikan dan mepertahankan sebagai istri pejabat, namun ia tidak berupaya menguasai perasaan hati dan hawa nasfunya dengan kekuatan akalnya. Akhirnya menyerahlah Zulaikha kepada kehendak dan panggilan hati dan nafsunya yang mendapat dukungan syaitan dan iblis.

Zulaikha menggunakan taktik, mamancing-mancing Yusuf agar ia lebih dahulu mendekatinya dan bukannya dia dulu yang mendekati Yusuf demi menjaga kehormatan dirinya sebagai istri pejabat. Ia selalu berdandan dan berhias rapi, bila Yusuf berada di rumah, merangsangnya dengan wangi-wangian dan dengan memperagakan gerak-gerik dan tingkah laku yang menggoda.

Yusuf yang tidak sadar bahwa Zulaikha, isteri Futhifar, mencintai dan memiliki nafsu syahwat kepadanya, menganggap perlakuan manis dan pendekatan Zulaikha kepadanya adalah hal biasa sesuai dengan pesanan Futhifar kepada istrinya ketika dibawa pulang dari tempat penemuan dulu. Ia berlaku biasa sopan santun dan bersikap hormat dan tidak sedikit pun terlihat sesuatu gerak atau tindakan yang menandakan bahwa ia terpikat oleh gaya dan aksi Zulaikha yang ingin menarik perhatiannya dan mengiurkan hatinya. Yusuf sebagai calon Nabi telah dibekali oleh Allah dengan iman yang mantap, akhlak yang luhur dan budi pekerti yang tinggi. Ia tidak akan terjerumus melakukan sesuatu maksiat yang sekaligus merupakan perbuatan atau suatu tindakan khianat terhadap orang yang telah mempercayainya memperlakukannya sebagai anak dan memberinya tempat di tengah-tengah keluarganya.

Sikap dingin dan acuh tak acuh dari Yusuf terhadap rayuan dan tingkah laku Zulaikha yang bertujuan membangkitkan nafsu syahwatnya menjadikan Zulaikha bahkan tambah panas hati dan bertekad akan berusaha terus sampai maksudnya tercapai. Jika aksi samar-samar yang ia lakukan tetap tidak dimengerti oleh Yusuf yang dianggapnya berdarah dingin itu, maka akan dilakukannya secara berterus terang dan kalau perlu dengan cara paksaan sekalipun.

Zulaikha, tidak tahan lebih lama menunggu reaksi dari Yusuf yang tetap bersikap dingin, acuh tak acuh terhadap rayuan dan ajakan yang samar-samar daripadanya. Maka kesempatan ketika si suami tidak ada di rumah, masuklah Zulaikha ke kamar tidurnya seraya berseru kepada Yusuf agar mengikutinya. Yusuf segera mengikutinya dan masuk ke kamar di belakang Zulaikha, sebagaimana ia sering melakukannya bila dimintai pertolongannya melakukan sesuatu di dalam kamar. Sekali-kali tidak terlintas dalam ¿kirannya bahwa perintah Zulaikha kali itu kepadanya untuk masuk ke kamarnya bukanlah perintah biasa untuk melakukan sesuatu yang biasa diperintahkan kepadanya. Ia baru sadar ketika ia berada di dalam bilik, pintu dikunci oleh Zulaikha.

Seraya memalingkan wajahnya ke arah lain, berkatalah Yusuf:” Semoga Allah melindungiku dari godaan setan. Tidak mungkin wahai tuan puteriku aku akan melakukan maksiat dan memenuhi kehendakmu. Jika aku melakukan apa yang tuan putri kehendaki, maka aku telah mengkhianati tuanku, suami tuan putri, yang telah melimpahkan kebaikannya dan kasih sayangnya kepadaku. Kepercayaan yang telah dilimpahkannya kepadaku, adalah suatu amanat yang tidak patut aku cederai. Sesekali tidak akanku balas budi baik tuanku dengan perkhianatan dan penodaan nama baiknya. Selain itu Allah pun akan murka kepadaku dan akan mengutukku bila aku lakukan apa yang tuan putri mintakan daripadaku. Allah Maha Mengetahui segala apa yang diperbuat oleh hamba-Nya.

Segera mata Zulaikha melotot dan wajahnya menjadi merah, tanda marah yang meluap-luap, akibat penolakan Yusuf tehadap ajaknya. Ia merasakan dirinya dihina dan diremehkan oleh Yusuf dengan penolakannya, yang dianggapnya suatu perbuatan kurang ajar dari seorang pelayan terhadap majikannya yang sudah merendahkan diri, mengajaknya berbuat maksiat, tetapi ditolak mentah-mentah. Padahal tidak sedikit pembesar pemerintah dan orang-orang berkedudukan telah lama merayunya dan ingin sekali menyentuh tubuhnya yang elok itu, tetapi tidak dihiraukan oleh Zulaikha.
Yusuf melihat mata Zulaikha yang melotot dan wajahnya yang menjadi merah, menjadi takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dan segera lari menuju pintu yang tertutup, namun Zulaikha cepat-cepat bangun mengejar Yusuf yang sedang berusaha membuka pintu, ditariknyalah kuat-kuat oleh Zulaikha bahagian belakang bajunya sehingga sobek. Tepat pada masa mereka berada di belakang pintu sambil tarik menarik, datanglah Futhifar mendapati mereka dalam keadaan yang mencurigakan itu.

Dengan tiada memberi kesempatan Yusuf membuka mulut, berkatalah Zulaikha cepat-cepat kepada suaminya yang masih berdiri tercengang memandang kepada kedua orang kepercayaan itu:” Inilah dia Yusuf, hamba yang engkau puja dan puji itu telah berani secara kurang ajar masuk ke kamarku dan memaksaku memenuhi nafsu syahwatnya. Berilah ia ganjaran yang setimpal dengan perbuatan biadabnya. Orang yang tidak mengenal budi baik kami ini harus dipenjarakan dan diberika seksaan yang pedih.”

Yusuf mendengar tuduhan palsu Zulaikha kepada suaminya, tidak dapat berbuat apa-apa selain memberi keterangan apa yang terjadi sebenarnya. Berkatalah ia kepada majikannya, Futhifar:” Sesungguhnya dialah yang menggodaku, memanggilkan aku ke kamarnya, lalu memaksaku untuk
memenuhi nafsu syahwatnya. Aku menolak tawarannya itu dan lari menyingkir, namun ia mengejarku dan menarik kemejaku dari belakang sehingga sobek.”

Futhifar dalam keadaan bingung. Siapakah diantara kedua orang yang benar? Yusufkah yang memang selama hidup bersama di rumahnya belum pernah berkata dusta, atau Zulaikha yang dalam fikirannya tidak mungkin akan mengkhianatinya? Dalam keadaan demikian itu tibalah sekonyongkonyong seorang dari keluarga Zulaikha, ia itu saudaranya sendiri yang dikenal bijaksana, pandai dan selalu memberi pertimbangan yang tepat bila dimintai fikiran dan nasihatnya. Atas permintaan Futhifar untuk memberinya pertimbangan dalam masalah yang membingungkan itu, berkatalah saudaranya:” Lihatlah, bila baju Yusuf sobek bagian belakang, maka ialah yang benar dan istrimu yang dusta. Sebaliknya bila yang sobek di bagian hadapan maka dialah yang berdusta dan istrimu yang berkata benar.”

Berkatalah Futhifar kepada isterinya setelah persoalannya menjadi jelas dan tabir rahasianya terungkap:” Beristighfarlah engkau hai Zulaikha dan mohonlah ampun atas dosamu. Engkau telah berbuat salah dan dusta pula untuk menutupi kesalahanmu. Memang yang demikian itu adalah sifat-sifat dan tipu daya kaum wanita yang sudah kami kenal.” Kemudian berpalinglah dia menghadap Yusuf dan berkata kepadanya:” Tutuplah rapat-rapat mulutmu wahai Yusuf, dan ikatlah lidahmu, agar masalah ini akan tetap menjadi rahasia yang tersimpan sekeliling dinding rumah ini dan jangan sesekali sampai keluar dan menjadi rahasia umum dan buah mulut masyarakat. Anggap saja persoalan ini sudah selesai sampai disini.”

Ada sebuah peribahasa yang berbunyi:” Tiap rahasia yang diketahui oleh dua orang pasti tersiar dan diketahui oleh orang lain.” Demikianlah juga peristiwa Zulaikha dengan Yusuf yang dengan ketat ingin ditutupi oleh keluarga Futhifar tidak perlu menunggu lama untuk menjadi rahasia umum. Pada mulanya orang berbisik-bisik dari mulut ke mulut, menceritakan kejadian itu, tetapi makin hari makin meluas dan menyebar ke tiap-tiap pertemuan dan menjadi bahan pembicaraan di kalangan wanita-wanita dari golongan atas dan menengah. Kecaman-kecaman yang bersifat sindiran maupun yang terang-terangan mulai dilontarkan orang terhadap Zulaikha, yang telah dikatakan selingkuh dengan pelayannya sendiri dan yang sangat memalukan kata mereka bahwa pelayan bahkan menolak ajakan majikannya dan tatkala melarikan diri dikejarkannya sampai bagian belakang kemejanya sobek.

Kecaman-kecaman sindiran-sindiran dan ejekan-ejekan orang akhirnya sampailah di telinga Zulaikha. Ia menjadi pusing dan sedih hati bahwa peristiwanya dengan Yusuf sudah menjadi buah bibir orang yang dengan sendirinya membawa nama baik keluarga dan nama baik suaminya sebagai
pejabat yang sangat disegani dan dihormati. Zulaikha yang sangat marah dan jengkel terhadap wanita-wanita sekelasnya, isteri-isteri pembesar yang tidak henti-hentinya dalam pertemuan mereka menyinggung namanya dengan ejekan dan kecaman sehubungan dengan peristiwa dirinya dengan Yusuf.

Untuk mengakhiri desas-desus dan kasak-kusuk kaum wanita para isteri pembesar itu, Zulaikha mengundang mereka ke suatu jamuan makan di rumahnya, dengan maksud membuat kejutan memperlihatkan Yusuf kepada mereka. Dalam pesta itu para undangan diberikan tempat duduk yang empuk dan masing-masing diberikan sebilah pisau yang tajam untuk memotong daging dan buah-buahan yang tersedia dan sudah dihidangkan.

Setelah masing-masing tamu menduduki tempatnya dan disilakannya menikmati hidangan yang sudah tersedia di depannya, maka tepat pada masa mereka sibuk mengupas buah yang ada di tangan masing-masing, dikeluarkannyalah Yusuf oleh Zulaikha berjalan sebagai peragawan di hadapan wanita-wanita yang sedang sibuk memotong buah-buahan itu. Tanpa disadari para tamu wanita yang sedang memegang pisau dan buah-buahan di tangannya seraya ternganga mengagumi keindahan wajah Yusuf, mereka melukai jari-jari tangannya sendiri dan sambil menggelenggeleng kepala keheranan, maka berkatalah mereka:” Maha Sempurnalah Allah. Ini bukanlah manusia. Ini adalah seorang malaikat yang mulia.” (Baca QS. Yusuf [12] : 22-35)

6. Yusuf dalam Penjara

Yusuf di masukkan ke dalam penjara bukannya karena ia telah melakukan kesalahan atau kejahatan, tetapi karena sewenang-wenangnya penguasa yang memenjarakannya untuk menutupi dosanya sendiri dengan melemparkan kesalahan itu kepada orang yang dipenjarakan. Akan tetapi bagi Nabi Yusuf, penjara adalah tempat yang aman untuk menghindari segala godaan dan tipu daya yang akan menjerumuskannya ke dalam kemaksiatan dan perbuatan mungkar. Bagi Yusuf hidup di dalam sebuah penjara yang gelap dan sempit adalah lebih baik dan lebih disukai daripada hidup di alam bebas di mana jiwanya tertekan dan hatinya tidak merasa aman dan tenteram. Di dalam penjara Yusuf dapat konsentrasi untuk beribadah kepada Allah Swt.

Bersama dengan Yusuf, dipenjarakan pula dua orang pegawai istana Raja dengan tujuan hendak meracunkan Raja atas perintah dan dengan kerjasama dengan pihak musuh istana. Dua pemuda pegawai yang dipenjara itu, seorang penjaga gudang makanan dan seorang sebagai pelayan meja istana.

Pada suatu hari pagi datanglah kedua pemuda tahanan itu ke tempat Nabi Yusuf mengisahkan bahwa mereka telah mendapat mimpi. Si pelayan melihat ia seakan-akan berada di tengah sebuah kebun anggur memegang gelas, seperti gelas yang sering digunakan untuk memberi minum untuk Raja, majikannya lalu diisinya gelas itu dengan perahan buah anggur.

Sedang pemuda penjaga gudang melihat dalam mimpinnya seolah-olah ada di atas kepalanya sebuah keranjang yang berisi roti, yang kemudian disambar sekelompok burung dan dibawa terbang. Kedua pemuda tahanan itu mengharapkan Yusuf agar memberi tafsir bagi mimpi mereka itu. Nabi Yusuf yang telah dikaruniai kenabian dan ditugaskan oleh Allah menyampaikan risalah-Nya memulai dakwahnya kepada kedua pemuda yang datang menanyakan tafsiran mimpinnya, mengajak mereka beriman kepada Allah Yang Maha Esa, meninggalkan persembahan kepada berhalaberhal. Untuk membuktikan kepada kedua pemuda itu bahwa ia adalah seorang Nabi dan pesuruh Allah, berkata Nabi Yusuf:” Aku tahu dan dapat menerangkan kepada kamu, makanan apa yang akan kamu terima, apa jenisnya dan berapa banyaknya demikian pula jenisnya dan macam mana minuman yang akan kamu terima.

Demikian pula dapat aku memberi tafsiran bagi mimpi seorang termasuk kedua mimpimu. Itu semua adalah ilmu yang dikaruniakan Allah kepadaku. Aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan mengingkari adanya hari kiamat kelak. Aku telah mengikuti agama bapa-bapaku, Ibrahim as., Ishaq dan Ya’qub. Tidaklah sepatutnya kami menyekutukan sesuatu bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya atas kami dan atas manusia seluruhnya tetapi kebanyakkan manusia tidak menghargai nikmat Allah itu dan tidak mensyukuri-Nya.

“ Adapun mengenai mimpimu”, Nabi Yusuf melanjutkan ceritanya,” Maka ta’bir mimpinya bahwa engkau, wahai pemuda pelayan, segera akan dikeluarkan dari penjara dan akan dipekerjakan kembali seperti sedia kala, sedangkan engkau wahai pemuda penjaga gudang akan dihukum mati dengan disalib dan kepalamu akan menjadi makan burung-burung yang mematuknya. Demikianlah takbir mimpimu yang telah menjadi hukum Allah bagi kamu berdua.”

Berkata Nabi Yusuf selanjutnya kepada pemuda yang diramalkan akan keluar dari penjara:” Wahai temanku, pesanku kepadamu, bila engkau telah keluar dan kembali bekerja di istana sebutlah namaku di hadapan Raja, majikanmu. Katakanlah kepadanya bahwa aku dipenjarakan sewenangwenangnya, tidak berdosa dan tidak bersalah. Aku dipenjara hanya untuk kepentingan menyelamatkan nama keluarga majikanku dan atas anjuran isterinya belaka. Jangalah engkau lupakan pesananku ini, wahai temanku yang baik.”

Kemudian, maka sesuai dengan takbir Nabi Yusuf, selang tidak lama keluarlah surah pengampunan Raja bagi pemuda pelayan dan hukuman salib bagi pemuda penjaga gudang dilaksanakan. Akan tetapi pesanan Nabi Yusuf kepada pemuda pelayan, tidak disampaikan kepada Raja setelah ia diterima kembali bekerja di istana. Setan telah menjadikannya lupa setelah ia menikmati kebebasan dari penjara dan dengan demikian tetaplah Nabi Yusuf berada di penjara beberapa tahun lamanya, penghibur para tahanan yang tidak berdosa dan mendidik serta berdakwah kepada tahanan yang telah bersalah melakukan kejahatan dan perbuatan-perbuatan yang buruk, agar mereka menjadi orang-orang yang baik dan bermanfaat bagi sesama manusia dan menjadi hamba-hamba Allah yang beriman dan bertauhid. (Baca QS. Yusuf [12] : 36-42)

7. Yusuf Dibebaskan Dari Penjara

Pada suatu hari berkumpullah di istana raja Mesir, para pembesar, penasihat dan para arif bijaksana yang sengaja diundang untuk memberi takbir mimpi yang telah memusingkan dan menakutkan hatinya. Ia bermimpi seakan-akan melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina lain yang kurus-kurus. Disamping itu ia melihat pula dalam mimpinya tujuh butir gandum hijau disamping tujuh butir yang lain kering.

Tidak seorang dari pembesar-pembesar yang didatangkan itu yang dapat memberi tafsiran takbir bagi mimpi Raja bahkan sebagian daripada mereka menganggapnya sebagai mimpi kosong yang tiada bererti dan menganjurkan kepada Raja melupakan saja mimpi itu dan menghilangkannya dari fikirannya.

Pelayan Raja, pemuda teman Yusuf dalam penjara, teringat pesan Nabi Yusuf kepadanya sewaktu ia akan dikeluarkan dari penjara dan bahwa takbir yang diberikan oleh Nabi Yusuf bagi mimpinya adalah tepat, telah terjadi sebagaimana telah ditakdirkan. Ia lalu memberanikan diri menghampiri Raja dan berkata:” Wahai Paduka Tuanku! Hamba mempunyai seorang teman di dalam penjara yang pandai menakbirkan mimpi. Ia adalah seorang yang cerdas, ramah dan berbudi pekerti luhur. Ia tidak berdosa dan tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia dipenjara hanya atas fitnah dan tuduhan  palsu belaka. Ia telah memberi takbir bagi mimpiku dan ternyata takbirnya tepat dan benar sesuai dengan apa yang hamba alami. Jika Paduka Tuan berkenan, hamba akan pergi mengunjunginya di penjara untuk menanyakan dia tentang takbir mimpi Paduka Tuan.”

Dengan izin Raja, pergilah pelayan mengunjungi Nabi Yusuf dalam penjara. Ia menyampaikan kepada Nabi Yusuf kisah mimpi Raja yang tidak seorang pun dari pembesar dan para penasihatnya dapat memberi takbir yang memuaskan dan melegakan hati majikannya. Ia mengatakan kepada Nabi Yusuf bahwa jika Raja dapat dipuaskan dengan pemberian bagi takbir mimpinya, mungkin sekali ia akan dikeluarkan dari penjara dan dengan demikian akan berakhirlah penderitaan yang akan dialami bertahun-tahun dalam kurungan.

Berkatalah Nabi Yusuf menguraikan takbirnya bagi mimpi Raja:”
Negara akan menghadapi masa makmur, subur selama tujuh tahun, di mana tumbuh-tumbuhan dan semua tanaman gandum, padi dan sayur mayur akan mengalami masa panen yang baik yang membawa hasil makanan berlimpah-ruah, kemudian menyusul musim kemarau selama tujuh tahun berikutnya dimana sungai Nil tidak memberi air yang cukup bagi ladangladang yang kering, tumbuh tumbuhan dan tanaman rusak dimakan hama sedang persediaan bahan makanan, hasil panen tahun-tahun subur itu sudah habis dimakan. Akan tetapi, Nabi Yusuf melanjutkan keterangannya, setelah mengalami kedua musim tujuh tahun itu akan tibalah tahun basah di mana hujan akan turun dengan lebatnya menyirami tanah-tanah yang kering dan kembali menghijau menghasilkan bahan makanan dan buahbuahan yang lezat yang dapat dipanen untuk dinikmati.”

“ Maka jika takbirku ini menjadi kenyataan ,” Nabi Yusuf berkata lebih lanjut,” seharusnya kamu menyimpan baik-baik apa yang telah dihasilkan dalam tahun-tahun subur, serta berhemat dalam pemakaiannya untuk persiapan menghadapi masa kering, agar supaya terhindar dari bencana kelaparan dan kesengsaraan.”

Raja setelah mendengar dari pelayannya apa yang diceritakan oleh Nabi Yusuf tentang mimpinya merasakan bahwa takbir yang didengarkan itu sangat masuk akal dan dapat dipercayai bahwa apa yang telah diramalkan oleh Yusuf akan menjadi kenyataan. Ia memperoleh kesan bahwa Yusuf yang telah memberi takbir yang tepat itu adalah seorang yang pandai dan bijaksana dan akan sangat berguna bagi negara jika ia didudukkan di istana menjadi penasehat dan pembantu kerajaan. Maka disuruhnyalah kembali si pelayan ke penjara untuk membawa Yusuf menghadap kepadanya di istana.
Nabi Yusuf yang sudah cukup menderita hidup sebagai orang tahanan yang tidak berdosa, dan ingin segera keluar dari penjara, namun ia enggan keluar dari penjara sebelum peristiwanya dengan istri Futihar dijernihkan lebih dahulu dan sebelum tuduhan serta fitnah yang ditimpakan ke atas dirinya diluruskan. Nabi Yusuf ingin keluar dari penjara sebagai orang yang suci bersih dari tuduhan ¿tnah dan tipu-daya yang bertujuan menutupi dosa isteri Futihar atu Kitfir.

Raja Mesir yang sudah banyak mendengar tentang Nabi Yusuf dan terkesan oleh takbir mimpinya secara terperinci dan menyeluruh makin merasa hormat kepadanya, mendengar tuntutannya agar diselesaikan lebih dahulu soal tuduhan dan fitnahan yang dilemparkan atas dirinya sebelum
ia dikeluarkan dari penjara. Hal mana menurut fikiran Raja menandakan kejujurannya, kesucian hatinya dan kebesaran jiwanya bahwa ia tidak ingin dibebaskan atas dasar pengampunan tetapi ingin dibebaskan karena ia bersih dan tidak bersalah serta tidak berdosa.

Tuntutan Nabi Yusuf diterima oleh Raja dan segera dikeluarkan perintah mengumpulkan para wanita yang telah menghadiri jamuan makan Zulaikha dan teriris ujung jari tangan masing-masing ketika melihat wajahnya. Di hadapan Raja mereka menceritakan tentang apa yang mereka lihat dan alami dalam jamuan makan itu serta percakapan dan soal jawab yang mereka lakukan dengan Nabi Yusuf. Mereka menyatakan pesan mereka tentang diri Yusuf bahwa ia seorang yang jujur, soleh, bersih dan bukan dialah yang salah dalam peristiwa dengan Zulaikha. Zulaikha pun dalam pertemuan itu, mengakui bahwa memang dialah yang berdosa dalam peristiwanya dengan Yusuf dan dialah yang menganjurkan kepada suaminya agar memenjara Yusuf untuk memberikan gambaran palsu kepada masyarakat bahwa dialah yang salah dan bahwa dialah yang memperkosa kehormatannya.

Hasil pertemuan Raja dengan para wanita itu di umumkan agar diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan dengan demikian terungkaplah tabir yang meliputi peristiwa Yusuf dan Zulaikha. Maka atas, perintah Raja, dikeluarkanlah Nabi Yusuf dari penjara secara hormat, bersih dari segala tuduhan. Ia pergi langsung ke istana Raja memenuhi undangannya. (Baca Q.S. Yusuf [12] : 43-53)

8. Yusuf Diangkat Sebagai Wakil Raja Mesir

Raja Mesir yang telah banyak mendengar tentang Nabi Yusuf dari pelayannya, teman Nabi Yusuf dalam penjara, dari kesaksian wanitawanita, tamu Zulaikha dalam jamuan makan dan dari Zulaikha sendiri, makin bertambah rasa hormatnya dan kagumnya terhadap Nabi Yusuf setelah berhadapan muka dan berbicara dengan beliau sekeluarnya dari penjara.

Kecerdasan otak Nabi Yusuf, pengetahuannya yang luas, kesabaran, kejujurannya, keramah-tamahannya dna akhlak serta budi pekerti luhurnya, menurut fikiran Raja akan sangat bermanfaat bagi kerajaannya bila Nabi Yusuf diserahi pimpinan negara dan rakyat. Maka kepada Nabi Yusuf
dalam pertemuan pertamanya dengan Raja ditawarkan agar ia tinggal di istana mewakili Raja menyelenggarakan pemerintahan serta pengurusan negara serta memimpin rakyat Mesir yang diramalkan akan menghadapi masa-masa sukar dan sulit.

Nabi Yusuf tidak menolak tawaran Raja Mesir itu. Ia menerimanya asal saja kepadanya diberi kekuasaan penuh dalam bidang keuangan dan bidang distribusi bahan makanan, karena menurut pertimbangan Nabi Yusuf, kedua bidang yang berkaitan antara satu sama lain itu merupakan kunci dari kesejahteraan rakyat dan kestabilan negara. Raja yang sudah mempunyai kepercayaan penuh terhadap diri Nabi Yusuf, terhadap kecerdasan otaknya, kejujuran serta kecekapannya menyetujui fikiran beliau dan memutuskan untuk menyerahkan kekuasaannya kepada Nabi Yusuf dalam suatu upacara penobatan yang menurut lazimnya dan kebiasaan yang berlaku.

Pada hari penobatan yang telah ditentukan, yang dihadiri oleh para pembesar negeri dan pemuka-pemuka masyarakat, Nabi Yusuf dikukuhkan sebagai wakil Raja, dengan mengenakan pakaian kerajaan dan di lehernya dikalung dengan kalung emas, kemudian raja di hadapan para hadiri melepaskan cincin dari jari tangannya lalu dipasangkannya ke jari tangan Nabi Yusuf, sebagai tanda penyerahan kekuasaan kerajaan.

Demikianlah rahmat dan kurnia Tuhan yang telah memberi kedudukan tinggi dan kerajaan besar kepada hamba-Nya Nabi Yusuf setelah mengalami beberapa penderitaan dan ujian yang berat, yang
dimulai dengan pelemparannya ke dalam sebuah sumur tua oleh saudarasaudaranya sendiri, kemudian dijualbelikannya sebagai hamba dalam suatu penawaran umum dan pada akhirnya setelah ia mulai merasa ketenangan hidup di rumah Futihar datanglah godaan dan ¿tnahan yang berat bagi dirinya di mana nama baiknya dikaitkan dengan suatu perbuatan maksiat yang menyebabkan ia meringkok dalam penjara selama bertahun-tahun.
(Kisah pengangkatan Nabi Yusuf sebagai penguasa Mesir diceritakan dalam Al-Qur’an dalam surah Yusuf [12] : 54-57.)

9. Pertemuan Yusuf dengan Saudara-Saudaranya

Pada saat musim kekeringan dan kelaparan datanglah orang berduyun-duyun dari kota dan desa-desa pinggiran Mesir, bahkan dari negara-negara yang berhampiran Mesir yang sudah kekurangan bahan makanan bagi rakyatnya. Mereka datang mengharap pertolongan Nabi Yusuf untuk memberi kesempatan membeli gandum serta lain-lain bahan makanan yang masih tersedia dalam gudang-gudang pemerintah.

Di antara para pendatang yang ingin berbelanja di Mesir terdapat rombongan orang-orang Palestina, termasuk di antara mereka ialah saudarasaudara Nabi Yusuf sendiri, ialah penyebab utama bagi penderitaan yang telah di alaminya. Nabi Yusuf segera mengenal mereka tetapi sebaliknya mereka tidak mengenal akan Nabi Yusuf yang pernah dilemparkan ke dalam sumur. Bahkan tidak terlintas dalam fikiran mereka bahwa Yusuf masih hidup, apa lagi menjadi orang besar memimpin negara Mesir sebagai wakil Raja yang berkuasa mutlak.

Sejak awal Nabi Yusuf melihat wajah-wajah saudaranya yang datang memerlukan gandum, tidak ada niat sedikit pun dalam hatinya hendak mempersulit mereka sebagai balas dendam atas perbuatan yang mereka telah lakukan terhadap dirinya. Soal yang dilakukan dengan mereka hanya sekadar ingin mengetahui keadaan ayah dan adik bungsunya, Benyamin yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan dan hanya sekadar taktik untuk mempertemukan kembali dengan ayah dan saudara-saudaranya yang sudah lama terpisah.

Kemudian Nabi Yusuf memerintahkan pegawai-pegawainya mengisi karung-karung saudaranya dengan gandum dan bahan makanan yang mereka perlukan. Sedang emas dan perak yang mereka bawa untuk harga gandum dan bahan makan itu, diisikan kembali ke dalam karung-karung mereka secara diam-diam tanpa mereka ketahui.

Setibanya kembali di Palestina berceritalah merek kepada ayahnya Ya’qub tentang perjalanan mereka dan bagaimana Yusuf menerima mereka, yang dipujinya sebagai penguasa yang bijaksana, adil, sabar, rendah hati dan sangat ramah. Tanpa sedikit kesukaranpun mereka telah diberikan keperluan mereka dari gandum yang diisikan sekali oleh pegawai-pegawai Yusuf ke dalam karung mereka. Disampaikan pula oleh mereka kepada ayahnya, bahwa mereka diharuskan oleh Yusuf membawa adik bungsu mereka ke Mesir, bila mereka datang lagi untuk membeli gandum dan bahan makanan. Tanpa membawa adik termaksud, mereka tidak akan dilayani dan diperkenankan membeli gandum yang mereka perlukan. Karenanya mereka dari jauh-jauh mohon agar mereka diperkenankan membawa adik mereka Benyamin bila mereka harus kembali ke Mesir untuk membeli gandum.

Berkata Nabi Ya’qub serta merta setelah mendengar cerita putera-puteranya:
“Tidak, sesekali tidak akan ku berikan izinkan kepadamu untuk membawa Benyamin jauh dariku. Aku tidak akan mempercayakan Benyamin kepadamu setelah apa yang terjadi dengan diri Yusuf adikmu. Kamu telah berjanji akan menjaganya baik-baik, bahkan sanggup mengorbankan jiwaragamu untuk keselamatannya.

Ketika karung-karung yang dibawa kembali dari Mesir dibongkar, ternyata didalamnya terdapat barang-barang emas dan perak yang telah mereka bayarkan untuk harga gandum yang dibeli. Maka seraya tercengang bercampur gembira, berlari-larilah mereka menyampaikan keheranan mereka kepada ayahnya. Mereka berkata: “Wahai ayah! Kami tidak berdusta dalam cerita kami tentang itu penguasa Mesir orang baik hati.

Lihatlah emas dan perak yang telah kami bayarkan untuk ganti gandum yang kami terima, dipulangkan kembali ke dalam karung-karung kami tanpa kami mengetahui. Jadi apa yang kami bawa ini adalah pemberian percuma dari penguasa Mesir yang sangat murah hati itu.”

Dengan diperolehnya gandum, bantuan percuma dari putera yang tidak mereka kenali, keluarga Ya’qub menjadi tenang dan merasa buat beberapa waktu, bahwa api didapur rumah akan tetap menyala. akan tetapi persediaan yang terbatas itu tidak bertahan lama jika tidak disusul dengan pengisian stok baru selama musim kemarau belum berakhir. Demikianlah maka Nabi Ya’qub yang melihat persediaan gandumnya makin hari makin berkurangan sedangkan tanda-tanda krisis makanan akan berakhir belum nampak, terpaksalah ia mengutus putera-puteranya kembali ke Mesir untuk meminta bahan makan untuk kedua kalinya dari Yusuf wakil Raja negeri itu. Dan karena putera-putera Ya’qub tidak akan berangkat ke Mesir tanpa Benyamin, sesuai janji mereka kepada Yusuf, maka terpaksa pulalah Ya’qub mengikut sertakan putera bungsunya Benyamin dalam rombongan.
Setibanya di istana kerajaan merek diterima oleh adik mereka sendiri Yusuf yang belum mereka kenal kembali, dengan penuh ramah-tamah dan dihormati dengan jamuan makan. Bagi mereka disediakan tempat penginapan untuk setiap dua orang sebuah rumah, sedang adik bungs Yusuf, Benyamin diajak bersamanya menginap di dalam istana.

Sewaktu berada berduaan dengan Yusuf, Benyamin mencucurkan airmata seraya berkata kepada kakaknya yang belum dikenal kembali:
“Andaikan kakakku Yusuf masih hidup, niscaya engkau akan menempatkan aku bersamanya di sebuah rumah tersendiri sebagaimana saudarasaudaraku yang lain.” Yusuf lalu menghiburkan hati adiknya dengan kata kata: “Sukakah engkau bila aku menjadi kakakmu menggantikan kakakmu yang hilang itu?” Benyamin menjawab: “Tentu namun sayang sekali bahwa engkau tidak dilahirkan oleh ayahku Ya’qub dan ibuku Rahil.”

Mendengar kata-kata si adiknya, bercucuranlah air mata Yusuf, lalu memeluk adiknya sambil mengaku bahwa dia adalah Yusuf, kakanya yang hilang itu. Ia menceritakan kepada adiknya penderitaan-penderitaan yang telah dialami sejak ia dicampakkan ke dalam sumur tua, diperjual-belikan sebagai hamba sahaya, ditahannya dalam penjara selama bertahun-tahun tanpa dosa dan akhirnya berkat rahmat dan kurnia Tuhan diangkatlah ia sebagai wakil raja yang berkuasa mutlak. Yusuf mengakhiri beritanya dengan berpesan kepada adiknya, agar merahasiakan apa yang telah ia dengarkan dan jangan sampai diketahui oleh saudara-saudaranya yang lain. Kisah pertemuan Yusuf dengan saudaranya dikisahkan dalam Al-Qur’an pada (QS. Yusuf [12] : 58-69)

Nabi Yusuf menerima saudara-saudaranya sebagai tamu selama tiga hari tiga malam. Setelah selesai masa bertamu bersiap-siaplah mereka untuk pulang kembali ke negerinya, sesudah karung-karung mereka diisi dengan penuh gandum dan bahan-bahan makanan lain yang mereka perlukan.

Setelah berjabat tangan, meminta diri dari Yusuf, bergeraklah kafilahmereka menuju pintu gerbang ke luar kota. Tetapi sebelum kafilah sempat melewati batas kota, tiba-tiba beberapa pengawal istana yang berkuda mengejar mereka dan memerintah agar berhenti dan dilarang meneruskan perjalanan, sebelum diadakan pemeriksaan terhadap barang-barang mereka bawa. Para pengawal mengatakan bahwa sebuah piala gelas minum raja telah hilang dan mungkin salah seorang dari mereka yang mencurinya. Penggeledahan dilakukan oleh para pengawal, barang-barang serta karung-karung diturunkan dari atas punggung unta, dibongkar dan diperiksa.

Sejurus kemudian berteriaklah salah seorang pengawal dengan memegang piala di tangannya seraya berkata: “Inilah dia piala yang hilang.”Para anggota rombongan terkejut, mengangakan mulut, sambil memandang satu dengan yang lain keheranan, seakan-akan masing-masing bertanya di dalam diri sendiri, gerangan musibah apakah yang menimpa mereka ini?
Bertanya pemimpin rombongan kepada pengawal, dari mana mereka dapatkan piala itu. Mereka menujukan kepada salah satu bagasi, yang ternyata bahwa bagasi itu adalah kepunyaan adik bungsu mereka Benyamin. Maka sesuai dengan peraturan, ditahanlah Benyamin dan tidak diizinkan pulang.

Berangkatlah kafilah Ya’qub kembali ke tanah airnya dengan hanya terdiri dari sembilan orang, meninggalkan di belakang mereka kakak sulungnya Yahudza dan adik bungsunya Benyamin. Setiba mereka di rumah hanya dengan sembilan orang dan menghadap ayahnya menceritakan apa yang telah terjadi pada diri Benyamin dan Yahuda. Nabi Ya’qub berkata seraya berpaling dari mereka dan mengusap dada: “Oh alangkah sedihnya hatiku karena hilangnya Yusuf yang masih terbayang wajahnya di depan mataku. Kini kalian tambah lagi penderitaanku dengan meninggalkan Benyamin di negeri orang untuk kedua kalinya. (Bacalah QS. Yusuf [12] : 70-86 )

10. Pertemuan Kembali Keluarga Ya’qub

Sejak kembalinya kafilah putra-putranya dari Mesir tanpa Benyamin dan Yahuda, maka duka nestapa dan kesedihan Ya’qub makin mendalam dan menyayat hati. Ia hanya terasa terhibur bila ia sedang menghadap kepada Allah, shalat, bersujud seraya memohon kepada Allah agar memberi kesabaran dan keteguhan iman menghadapi ujian dan percubaan yang sedang ia alami. Fisik Nabi Ya’qub makin hari makin menjadi lemah, tubuhnya makin kurus hingga tinggal kulit melekat pada tulang, ditambah pula dengan kebutaan matanya.

Ya’qub berkata kepada anak-anaknya: Bila kamu benar-benar sayang kepadaku dan ingin melegakan hatiku, pergilah kamu merantau mencari jejak Yusuf dan berusahalah sampai menemuinya dan setidak-tidaknya mendapat keterangan di mana ia berada sekarang dan jangan sesekali berputus asa karena hanya orang-orang ka¿rlah yang berputus asa dari rahmat Allah”. Anjuran Ya’qub diterima, setidak-tidaknya ia sekadar membesarkan hati si ayah. Dan sekali pun mereka merasa tidak mungkin
mendapat Yusuf dalam keadaan hidup, namun bila mereka berhasil membujuk penguasa Mesir mengembalikan Benyamin, maka hal itu sudah cukup merupakan penghibur bagi ayah mereka.

Tibalah kafilah putra-putra Ya’qub di Mesir untuk ketiga kalinya dan dalam pertemuan mereka dengan Yusuf, wakil raja Mesir yang berkuasa, berkatalah juru bicara mereka: “Wahai Paduka Tuan! Keadaan hidup yang sukar dan melarat di negeri kami yang disebabkan oleh krisis bahan makanan yang belum teratasi memaksa kami datang kembali untuk ketiga kalinya mengharapkan bantuan dan murah hati paduka tuan, kedatangan kami kali ini juga untuk mengulang permohonan kami kepada paduka tuan dapatlah kiranya adik bungsu kami Benyamin dilepaskan untuk kami bawa kembali kepada ayahnya yang sudah buta kurus kering dan sakit sejak Yusuf, kakak Benyamin hilang. Kami sangat mengharap kebijaksanaan paduka agar melepaskan permohonan kami ini, karena dengan kembalinya Benyamin dapat meringankan penderitaan batinnya serta memulihkan kembali kesehatan badannya yang hanya tinggal kulit melekat pada tulangnya.”

Kata-kata yang diucapkan oleh kakak-kakknya menimbulkan rasa haru pada diri Yusuf dan tepat mengenai sasaran di lubuk hatinya, menjadikan ia merasakan bahwa masanya telah tiba untuk mengenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya dan dengan demikian akan dapat mengakhiri penderitaan ayahnya. Berkatalah Yusuf: “Masih ingatkah kalian apa yang telah kalian lakukan terhadap adikmu Yusuf, tatkala kamu melemparkannya ke dalam sumur? Dan masih teringatkah olehmu tatkala seorang dari kalian memegang Yusuf, menanggalkan pakaiannya lalu ditinggalkannya seorang diri di dalam sumur yang gelap dan kering itu, lalu tanpa menghiraukan ratap tangisnya, kamu kembali pulang ke rumah dengan rasa puas seakanakan kamu telah membuang sebuah benda atau seekor binatang yang tidak patut dikasihani dan dihiraukan nasibnya?”

Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh wakil raja Mesir itu, tercenganglah para saudara Yusuf, bertanya-tanya kepada diri sendiri masing-masing, seraya mamandang antara satu dengan yang lain, bagaimana peristiwa itu sampai diketahuinya secara terperinci, padahal tidak seorang pun dari mereka pernah membocorkan berita peristiwa itu kepada orang lain, juga kepada Benyamin pun yang sedang berada di dalam istana raja.

Kemudian masing-masing dari mereka menyorotkan matanya, mulutmya dan seluruh tubuhnya dari kepala sampailah ke kaki. Dicarinya ciri-ciri khas yang mereka ketahui berada pada tubuh Yusuf semasa kecilnya. Lalu berbisik-bisiklah mereka dan sejurus kemudian keluarlah dari mulut mereka secara serentak suara teriakan : “Engkaulah Yusuf”.
“Benar”,Yusuf menjawab, “Akulah Yusuf dan ini adalah adikku satu ayah dan ibu, Benyamin. Allah dengan rahmat-Nya telah mengakhiri segala penderitaanku dan dengan rahmat-Nya pula kami telah dikaruniai nikmat rezeki yang melimpah ruah dan penghidupan yang sejahtera. Demikianlah
barangsiapa yang bersabar, bertakwa serta bertawakkal tidaklah akan luput dari pahala dan ganjarannya.”

Setelah mendengar pengakuan Yusuf, berubahlah wajah mereka menjadi pucat. Terbayang di depan mata mereka apa yang mereka perbuat terhadap diri adik mereka Yusuf yang berada di depan mereka sebagai wakil raja Mesir yang berkuasa penuh. Mereka gelisah tidak dapat membayangkan pembalasan apa yang akan mereka terima dari Yusuf.

Berkatalah saudara-saudara Yusuf dengan nada yang rendah:
“Sesungguhnya kami telah berdosa terhadap dirimu dan bertindak kejam ketika kami melemparkan kamu ke dasar sumur. Kami sangat sesalkan peristiwa yang terjadi itu yang berakibat penderitaan bagimu dan bagi ayah kami. Maka terserah kepadamu untuk tindakan pembalasan apakah yang akan engkau timpakan di atas diri kami yang telah berdosa dan mendurhakaimu”.

Berkatalah Yusuf menenteramkan hati saudara-saudaranya yang sedang ketakutan: “Tidak ada manfaatnya menyesalkan apa yang telah terjadi Mudah-mudahan Allah mengampuni segala dosamu, karena Dialah Yang Maha Penyayang serta Maha Pengampun. Pergilah kamu sekarang juga kembali kepada ayah dengan membawa baju kemejaku ini. Usapkanlak ia pada kedua belah matanya yang insya- Allah akan menjadi terang kembali, kemudian bawalah ia bersama semua keluarga ke sini secepat mungkin.”

Maka bertolaklah kafilah putra-putra Ya’qub dengan diliputi rasa haru bercampur gembira. Sejurus kemudian berhentilah ka¿lah di depan pintu rumah, beramai-ramai masuk ke dalam rumah dan berpeluknyalah ayah sambil mengusapkan baju kemeja Yusuf pada kedua belah matanya. Seketika itu pula terbuka lebarlah kedua belah mata Ya’qub, bersinar kembali memandang wajah putra-putranya dan mendengar kisah perjalanan putraputranya dan bagaimana mereka telah menemukan Yusuf bersama adiknya Benyamin. Disampaikan pula undangan Yusuf agar semua sekeluarga berhijrah ke Mesir dan menjadi satu di dalam istananya.

Dirangkulnyalah si ayah oleh Yusuf seraya mencucurkan air mata setiba Ya’qub di halaman istana. Demikian pula ayah tidak ketinggalan mencucurkan air mata. Semuanya bersujud sebagai tanda syukur kepada Allah serta penghormatan bagi Yusuf, kemudian dinaikkannyalah ayah dan ibu tirinya yang juga saudara ibunya ke atas singgasana seraya berkata:
“Wahai ayahku! Inilah dia takbir mimpiku yang dahulu itu, menjadi kenyataan. Sesungguhnya Allah Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki dan sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.Kemudian Yusuf mengangkat kedua tangannya berdoa: “Ya Tuhanku! Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan mengajarkan kepadaku pengetahuan serta kepandaian mentakbir mimpi. Ya Tuhanku Pencipta langit dan bumi! Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam, beriman dan bertakwa dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang soleh.” (Baca QS. Yusuf [12] : 87-101)

Pelajaran yang Dapat Diambil dari Kisah Nabi Yusuf A.S.

Banyak pelajaran dan ibrah yang dapat dipetik dari Kisah Nabi Yusuf yang penuh dengan pengalaman hidup antaranya ialah :
  1. Bahwasanya penderitaan seseorang yang nampaknya merupakan suatu musibah dan bencana, pada hakikatnya dalam banyak hal bahkan merupakan rahmat dan barakah yang masih terselubung bagi penderitaannya
  2. Nabi Yusuf telah memberi contoh dan teladan bagi kemurnian jiwanya dan keteguhan hatinya tatkala menghadapi godaan Zulaikha. Sebagai akibat penolakannnya itu ia rela dipenjarakan demi mempertahankan keluhuran budinya, keteguhan imannya dan kemurnian jiwanya.
  3. Nabi Yusuf memberi contoh tentang sifat seorang kesatria yang enggan dikeluarkan dari penjara sebelum persoalannya dengan Zulaikha dijernihkan. Ia tidak mau dikeluarkan dari penjara kerana memperoleh pengampunan dari Raja, tetapi ia ingin dikeluarkan sebagai orang yang bersih, suci dan tidak berdosa.
  4. Suatu sifat utama pembawaan jiwa besar Nabi Yusuf menonjol tatkala ia menerima saudara-saudaranya yang datang ke Mesir untuk memperolehi gandum. Nabi Yusuf tidak melakukan pembalasan terhadap saudara-saudaranya yang telah melemparkannya ke dalam sebuah sumur
  5. Nabi Yusuf orang yang cerdas, jujur dan amanah. Sifat-sifat utama inilah yang harus dimiliki oleh kita semua.

Tidak ada komentar untuk "10 Tahapan Kisah Nabi Yusuf As dan Pelajaran yang Dapat Diambil dari Kisahnya"