Pengertian dan Dalil Kompetisi dalam Kebaikan, Makna, Ciri, Balasan, & Hikmah Kompetisi dalam Kebaikan

Pengertian Kompetisi dalam Kebaikan / Fastabiqul Khairat

Kompetisi Dalam Kebaikan (fastabiqul­ khairat) secara secara etimologi berarti berlomba-lomba dalam kebaikan. Anjuran ini tertuju baik bagi laki-laki maupun perempuan. Manusia diperintahkan untuk berlomba dalam berbuat kebajikan, baik kepada manusia atau alam sekitarnya. Misalnya dengan menolong sesama, menyingkirkan sesuatu yang membahayakan di jalan, mengikuti olimpiade mata pelajaran tertentu dan sebagainya.

Dalil Kompetisi dalam Kebaikan

Dalam Islam, istilah kompetisi dalam kebaikan / fastabiqul ­khairat merujuk pada firman Allah SWT QS. Al Baqarah: 148 dan QS. Al­-Hadid: 21
Pengertian dan Dalil Kompetisi dalam Kebaikan
“Dan bagi tiap­tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba­lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al­Baqarah (2) : 148)

Dalil Kompetisi dalam Kebaikan - Fastabiqul Khairat
“Berlomba-­lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang­orang yang beriman kepada Allah dan rasul­rasul­Nya. Itulah karunia Allah, diberikan­Nya kepada siapa yang dikehendaki­Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (QS. Al­-Hadid (57):21)

Makna Kompetisi dalam Kebaikan   

Al-Qur’an menggugah agar umat Islam tidak menjadi umat yang santai melainkan menjadi umat pionir dalam segala kebaikan. Oleh karena itu ketika seseorang mengaku sebagai hamba Allah, maka di saat yang bersamaan ia segera bergerak melakukan segala kebaikan yang tak terhingga luasnya. Islam memberi motivasi kepada pemeluknya untuk mengedepankan berbuat kebaikan dengan penuh antusias disebabkan antara lain:

a. Melakukan dan menyebarkan kebaikan adalah tugas pokok setiap insan.
Tanpa kebaikan Allah, maka manusia di muka bumi ini bisa dipastikan telah musnah sejak ratusan tahun yang silam. Kata fastabiqu memberi kesan perintah berlomba-lomba agar tidak didahulukan oleh orang lain. Oleh karena itu ia harus bergerak cepat dan bersegera untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam perlombaan ada tenaga ekstra yang digunakan, segala kemampuan dikerahkan sehingga cita-cita yang diinginkan bisa diraih. Nabi saw bersabda:
“Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Bersegeralah kamu sekalian untuk melakukan amal­amal yang shalih, karena akan terjadi suatu bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita dimana ada seseorang pada waktu pagi ia beriman tapi pada waktu sore ia kafir, pada waktu sore ia beriman tapi pada waktu pagi ia kafir, ia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia. (H.R. Muslim)

b. Usia manusia terbatas.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ia akan meninggal dunia. Oleh karena itu seorang hamba Allah agar segera melakukan kebaikan. Jika ia tidak melaksanakannnya, maka ia akan menjadi orang yang paling sengsara dan hal tersebut tidak hanya terjadi di dunia saja melainkan juga akhirat. Allah Swt berfirman yang artinya,
“Tiap-­tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS. Al­-A’raf (7): 34).
Agama Islam mempunyai keistimewaan yang menonjol yaitu menyeru kepada perlombaan (berlomba-lomba berbuat kebaikan). Dalam al-Qur’an dianjurkan seseorang melakukan kebaikan dan kemudian berlomba dalam kebaikan-kebaikan tersebut serta berupaya agar satu dengan yang lainnya menyusul.

Di sini Allah menggunakan kata perlombaan yang di dalamnya kendati tidak didapatkan arti kata cepat dan segera. Sebab, dari segi etimologi andaikata dua orang berjalan lambat sekalipun, tetapi satu dengan yang lain saling mendahului, maka mereka telah melakukan perlombaan. Oleh karena itu di sini terdapat perintah bagi setiap orang untuk berlomba. Kini jika seorang dengan upayanya dia menyusul, maka untuk yang lainpun terdapat juga perintah bahwa diapun juga harus menyusul ke depan.
“Sesungguhnya orang-­orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adalah sebaik­baik makhluk”. (QS. Al-Bayyinah (98):7)

Manusia diperintahkan untuk berlomba dalam berbuat kebajikan terhadap manusia dan alam sekitarnya. Salah satu petunjuk berkaitan dengan aplikasi berlomba-lomba dalam kebaikan adalah firman Allah Swt yang artinya:
“Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan janganlahkalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan”. (QS. al-Maidah (5): 2)

Menurut Ibnu Katsir berdasarkan redaksinya ayat ini memiliki makna umum yaitu agar seluruh umat Islam melakukan perbuatan tolong menolong dalam melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran sebagai realisasi dari takwa.

Dalam hal beramal shalih dapat dilihat bagaimana para sahabat melakukanya, seperti riwayat berikut: Pada suatu hari saat para sahabat yang kurang dari segi harta hadir di hadapan Rasulullah Saw untuk mengadu, Ya Rasulullah kami melasanakan shalat dan orang­orang kaya itu juga melaksanakan shalat, kami melakukan puasa dan orang­orang yang kaya itu melakukan puasa juga, kami berjihad dan orang­-orang kaya itu melakukan jihad juga. Tetapi ya Rasulullah ada pekerjaan yang membuat mereka lebih utama. Mereka memberikan sedekah tetapi kami tidak dapat melakukan itu. Beritahukanlah kepada kami amal shaleh yang dengan melakukan itu kami dapat menutupi kekurangan kami . Rasulullah Saw bersabda: “Setiap selesai shalat bacalah subhanallah 33 kali , Alhamdulillah 33 kali dan Allahu akbar 33 kali.


Ciri-Ciri Pelaku Kompetisi dalam Kebaikan

a. Memiliki niat yang ikhlas
Niat yang ikhlas merupakan faktor penting dalam setiap amal. Di dalam Islam ikhlas merupakan rukun amal yang pertama dan terpenting. Niat yang ikhlas karena Allah dalam melakukan kebaikan akan membuat seseorang memiliki perasaan yang ringan dalam mengerjakan amal-amal yang berat sekalipun, apalagi bila amal kebaikan itu tergolong amal shalih yang ringan. Sedangkan tanpa keikhlasan, jangankan amal yang berat, amal yang ringan pun akan terasa berat. Di samping itu, keikhlasan akan membuat seseorang berkesinambungan dalam melakukan amal kebaikan. Orang yang ikhlas tidak akan bertambah semangat hanya karena dipuji dan tidak akan melemah karena dicela. Adanya pujian atau celaan tidak akan mempengaruhi semangatnya dalam melakukan kebaikan.

b. Cinta kepada kebaikan dan cinta kepada orang yang berbuat baik
Seseorang akan antusias melaksanakan kebaikan manakala pada dirinya terdapat rasa cinta pada kebaikan. Karena tidak mungkin seseorang melakukan suatu kebaikan apabila dia sendiri tidak suka pada kebaikan itu. Oleh karena itu, rasa cinta pada kebaikan harus kita tanamkan ke dalam jiwa sehingga kita menjadikan setiap bentuk kebaikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan.

Di samping cinta kepada kebaikan, maka harus tertanam juga di dalam jiwa rasa cinta kepada siapa saja yang berbuat baik. Hal ini akan membuat kita ingin selalu meneladani dan mengikuti segala bentuk kebaikan, siapa pun yang melakukannya. Allah SWT telah menyebutkan kecintaan-Nya kepada siapa saja yang berbuat baik. Allah berfirman:

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang­orang yang berbuat baik” (QS. Al Baqarah (2) : 195)

c. Merasa beruntung bila melakukan suatu kebaikan
Berbuat baik merupakan sesuatu yang sangat mulia dan seseorang akan bersemangat melakukan kebaikan apabila dengan kebaikan itu dia merasa yakin memperoleh keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat. Ada banyak keuntungan yang akan diperoleh manusia bila ia berbuat baik.

d. Merasa rugi bila meninggalkan suatu kebaikan
Apabila seseorang merasa beruntung dengan kebaikan yang dilakukannya karena sejumlah keutamaan yang disebutkan dalam al-Qur’an, maka ia akan merasa sangat merugi apabila meninggalkannya. Bagi seorang mukmin, bagaimana mungkin dia tidak merasa rugi bila tidak melakukan kebaikan, karena kehidupan ini memang harus dijalani untuk mengabdi kepada Allah SWT yang merupakan puncak dari segala bentuk kebaikan yang harus dijalani.

e. Meneladani Generasi yang Baik
Perbuatan akan menjadi lebih baik apabila seseorang mau menjadi teladan bagi orang lain dalam berbuat baik. Hal ini menjadi penting karena dengan demikian ia menyadari bahwa meskipun ia merasa sudah banyak perbuatan baik tetapi tetap saja ia merasa masih sedikit dalam melakukan kebaikan dibandingkan dengan orang lain.


Balasan Pelaku Kompetisi dalam Kebaikan

a. Selalu bersama Allah SWT ( QS. Al­ Nahl (16): 128)
b. Menambah kenikmatan (QS. Al ­Ahzab (33) : 29)
c. Dicintai Allah (QS. Ali Imran (3) : 134)
d. Memperoleh rahmat Allah (QS. Al-A’Raaf (7) : 56)
e. Memperoleh pahala (QS. Al Taubah (9) : 120)
f.  Dimasukkan ke dalam surga. (QS. Al Maidah (5) : 85)


Hikmah Perilaku Kompetisi dalam Kebaikan

Berkompetisi dalam kebaikan memiliki beberapa hikmah yang dapat diambil dalam kehidupan sehari-hari. Di antara hikmah berperilaku kompetisi dalam kebaikan adalah :
a. Melakukan kebaikan yang telah ditentukan.
b. Melakukan persaingan dalam melakukan kebaikan sesuai dengan situasi dan kondisi. Karena kemampuan tiap muslim beragam dalam hal tingkat pendidikan, ekonomi dan statusnya dalam masyarakat.
c. Melakukan mmal shalih yang didasari oleh beriman kepada Allah Swt dan dilakukan dengan tekad yang teguh.

Tidak ada komentar untuk "Pengertian dan Dalil Kompetisi dalam Kebaikan, Makna, Ciri, Balasan, & Hikmah Kompetisi dalam Kebaikan"